Saturday, December 22, 2012

Artikel awam: kurang darah vs darah rendah




Artikel untuk awam

KURANG DARAH VS DARAH RENDAH
Dr. Suzanna Ndraha SpPD – Promkes RS Tebet

Kurang darah dalam bahasa medis disebut anemia, berarti kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 12 g/dL. Pasien yang menderita anemia akan terlihat pucat, dan keluhan yang dirasakan antara lain adalah lekas lelah dan berdebar-debar. Ada banyak penyebab kurang darah, salah satu diantaranya adalah kekurangan zat besi, asam folat dan vitamin B12. Obat tambah darah yang banyak beredar di pasaran umumnya adalah suplemen yang mengandung ketiga zat tersebut. Bila anemia yang diderita bukan akibat kekurangan zat besi, asam folat dan vitamin B12, maka akan terjadi penumpukan zat tersebut, terutama zat besi. Penimbunan besi, yang disebut juga hemokromatosis, dapat terjadi di organ tubuh seperti pankreas, hati dan jantung, dan justru akan menimbulkan penyakit yang berbahaya.
Gambar 1. Pengambilan darah 
untuk pemeriksaan laboratorium

Selain anemia karena kekurangan zat besi, asam folat dan vitamin B12, anemia juga dapat terjadi akibat kelainan darah yang disebut thalasemia, hemoglobinopati, anemia penyakit kronik, kekurangan zat eritropoetin, dan sebagainya. Karena itu sebelum memulai konsumsi suplemen penambah darah, sebaiknya diperiksa dulu jenis anemia yang diderita. Biasanya sebagai langkah pertama dokter akan menyarankan pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL) dan gambaran darah tepi (gambar 1). Tatalaksana anemia selanjutnya tergantung dari penyebab anemia yang ditemukan.
Kurang darah sering dikacaukan dengan darah rendah. Pasien sering berkata, ‘dokter, saya kan kurang darah, mengapa saya bisa darah tinggi?’ atau di lain kesempatan pasien berkata, ‘dokter, saya minta obat tambah darah karena saya darah rendah’. Tekanan darah ditentukan dengan pemeriksaan yang menggunakan tensimeter (gambar 2). 

Gambar 2. Pemeriksaan tekanan darah 
menggunakan alat tensimeter
Dikatakan tekanan darah rendah bila tekanan darah sistolik kurang dari 100 mmHg. Biasanya pengukuran tekanan darah sistolik akan berkisar sekitar 100-120 mmHg. Pada usia menjelang 40-50 tahun, sebagian orang akan mengalami kenaikan tekanan darah sistolik menjadi 130 - 140 mmHg.
Tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dinamakan darah tinggi atau hipertensi. Seseorang yang hipertensi bisa saja mengalami anemia atau kurang darah, karena tekanan darah dan kadar hemoglobin tidak saling mempengaruhi. Sebaliknya bila tekanan darah sistolik kurang dari 100 mmHg maka terapinya bukan obat tambah darah. Tekanan darah yang rendah sebenarnya bukan penyakit. Sebagian orang muda mempunyai tekanan darah 90/70 mmHg namun tidak ada keluhan, sehingga tidak memerlukan pengobatan. Tekanan darah rendah yang memerlukan pengobatan adalah bila disertai nadi meningkat akibat kekurangan cairan atau akibat infeksi yang berat. Keadaan ini biasanya memerlukan terapi infus cairan dan rawat inap di rumah sakit.
Apa yang harus dilakukan bila timbul gejala kurang darah? Jangan mengobati diri sendiri. Berkonsultasilah dengan dokter. Dokter akan membantu anda untuk mengetahui penyebab anemia tersebut, apakah kekurangan zat besi, asam folat dan vitamin B12, atau anemia karena penyebab yang lain. Bila kekurangan zat besi, maka obat suplemen tambah darah perlu diminum dalam waktu beberapa bulan, sehingga cadangan zat besi di badan dinyatakan cukup oleh dokter. Jangan menghentikan pengobatan hanya karena kadar hemoglobin sudah normal.
Apa yang harus dilakukan bila timbul gejala darah rendah? Berkonsultasilah dengan dokter. Beberapa pasien mencoba menaikkan tekanan darahnya dengan makan sate kambing, namun yang terjadi justru kolesterol menjadi naik dan timbul masalah baru. Bila tekanan darah rendah ini bukan suatu penyakit, maka tidak perlu diobati secara khusus. Bila tekanan darah rendah ini akibat kekurangan cairan atau infeksi yang berat, maka dokter akan menyarankan rawat inap. Tekanan darah rendah juga bisa terjadi akibat dosis obat darah tinggi yang berlebihan. Dokter akan menurunkan dosis obat, bila hal itu terjadi.
Apa yang harus dilakukan bila sebaliknya tekanan darah ternyata tinggi? Berkonsultasilah dengan dokter. Biasanya obat darah tinggi akan diberikan untuk jangka panjang, namun dosisnya ditentukan oleh dokter yang menangani. Sebaiknya jangan berpindah-pindah dokter bila anda menderita penyakit kronik seperti darah tinggi, karena memerlukan pemantauan jangka panjang. [Promkes RS Tebet Oktober 2012]

IPD Koja SOP KAD


IPD Koja SOP Hematemesis melena


IPD Koja SOP Penatalaksanaan CKD


IPD Koja SOP Tatalaksana Anemia


Artikel awam: sakit pinggang vs sakit ginjal


Artikel untuk awam


SAKIT PINGGANG VS SAKIT GINJAL
Dr. Suzanna Ndraha SpPD – Promkes RS Tebet


Sakit pinggang merupakan salah satu keluhan yang banyak dikeluhkan dalam praktek dokter sehari-hari. Hampir semua pasien yang sakit pinggang bertanya kepada dokter, apakah ini bukan ginjal, dok? (gambar 1). 

Gambar 1: sakit pinggang
Gambar 2. Lokasi ginjal di daerah pinggang
Dalam pemahaman awam, ginjal terletak di pinggang sehingga sakit pada pinggang berarti sakit ginjal (gambar 2). Apakah ini benar? Jawabnya ya dan tidak.

Ya, karena ada beberapa jenis sakit ginjal yang menimbulkan rasa nyeri di pinggang. Tidak, karena sebagian besar nyeri pinggang sebetulnya bukan akibat penyakit di ginjal. Dan ternyata gagal ginjal justru tidak ditandai dengan sakit pinggang.

Penyakit ginjal jenis apa yang menimbulkan nyeri pinggang? Contoh yang paling mudah adalah batu ginjal. Batu ginjal akan menimbulkan sakit pinggang bila batu tersebut bergerak sepanjang saluran kemih. Sakitnya akan berupa kolik. Sakit kolik ialah rasa nyeri yang tajam, terlokalisir, meningkat hingga puncak nyeri dan  kemudian reda. Namun batu tidak selalu menimbulkan nyeri. Bila batu yang berlokasi di ginjal ini tidak bergerak turun ke saluran, maka penderitanya tidak merasa nyeri.

Batu ginjal yang tidak menimbulkan nyeri ini justru yang berbahaya karena penderitanya tidak menyadari bahwa ada penyakit pada ginjalnya, hingga suatu saat terjadi kerusakan ginjal yang permanen dan berakhir pada gagal ginjal. Gagal ginjal membawa pasien kepada vonis cuci darah. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui adanya penyakit batu ginjal yang tidak menumbulkan nyeri ini? Dengan melakukan check up melalui pemeriksaan urin dan USG abdomen.

Sakit pinggang jenis apa yang bukan berasal dari ginjal? Sebenarnya lebih banyak sakit pinggang yang bukan berasal dari ginjal. Kebanyakan sakit pinggang berasal dari otot dan tulang belakang bawah yang disebut low back pain (LBP). LBP ini masuk dalam kelompok penyakit-penyakit rematik. Penyakit LBP tidak fatal seperti gagal ginjal, namun justru menimbulkan nyeri yang sangat mengganggu kualitas hidup. Seringkali rasa nyeri ini membuat penderita LBP terus menerus meminum obat atau jamu penghilang nyeri, tanpa menyadari bahwa penghilang nyeri ini berpotensi menimbulkan luka lambung yang justru akan menambah masalah penyakit lagi. Bagaimana mengetahui adanya LBP? Dengan melakukan check up melalui pemeriksaan foto lumbal dan bila perlu, CT Scan atau MRI tulang belakang.

Yang umumnya paling ditakuti oleh pasien sakit pinggang adalah gagal ginjal yang menimbulkan vonis cuci darah. Ternyata gagal ginjal sering terjadi tanpa menimbulkan rasa sakit pada pinggang. Pasien sering bertanya, ‘dokter, saya tidak pernah sakit pinggang kenapa bisa gagal ginjal?’ Gagal ginjal bisa disebabkan oleh sakit ginjal yang nyeri seperti batu ginjal. Tapi masih banyak sakit ginjal yang tidak menimbulkan nyeri, yang bisa menimbulkan gagal ginjal. Contohnya kencing manis dan darah tinggi. Kedua penyakit ini tidak menimbulkan rasa sakit pinggang, tapi dapat menyebabkan gagal ginjal. Keluhan gagal ginjal sendiri biasanya adalah rasa lemah, mual, dan pada tahap akhir timbul sesak. Bagaimana mengetahui adanya gagal ginjal? Dengan melakukan check up melalui pemeriksaan fungsi ginjal yaitu ureum dan kreatinin.

Apa yang harus dilakukan bila timbul sakit pinggang? Jangan mengobati diri sendiri. Berkonsultasilah dengan dokter. Dokter akan membantu anda untuk mengetahui apakah rasa nyeri itu akibat penyakit pada ginjal atau bukan. Bila ya, maka penyakit itu harus segera diatasi untuk menyelamatkan ginjal agar tidak jatuh pada gagal ginjal. Bila bukan, maka kemungkinan itu suatu nyeri LBP. Untuk mengatasi nyeri LBP, jangan berinisiatif mengulang-ulang pemakaian obat nyeri. Berkonsultasilah dengan dokter bagaimana melindungi lambung terhadap efek samping obat penghilang nyeri. [Promkes RS Tebet Oktober 2012]