31 Desember 2019, WHO menyatakan ditemukannya kasus baru kategori pneumonia yang belum diketahui penyebabnya di Wuhan, China. Hari ke hari jumlah kasus meningkat hingga adanya laporan kematian pada sejumlah daerah hingga akhirnya WHO menetapkan kasus ini sebagai Public Health Emergency of International Concern/Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC/KKMMD) atau yang bisa di sebut pandemi. Di tanggal 12 Februari 2020, nama COVID-19 resmi digunakan untuk penyakit baru ini dengan virus penyebabnya disebut SARS-CoV-2.1
Virus ini ditularkan pertama kali antara manusia dan hewan (zoonosis) karena mengalami spillover. Spillover ini dapat terjadi karena beberapa faktor, misalnya mutasi atau peningkatan kontak antara manusia yang memiliki virus corona.
Selain zoonosis, penyakit ini juga menular antar manusia. Berdasarkan bukti ilmiah, covid-19 menular melalui droplet (yang keluar ketika kita batuk, bersin, atau menghembuskan napas) dan kontak erat, berbeda dengan tuberculosis atau TBC yang menular melalui udara atau airborne.1-3
Virus yang keluar bersama droplet menempel di permukaan benda, Pada permukaan benda ada waktu virus dapat bertahan dari beberapa jam hingga beberapa hari. Orang lain dapat tertular covid-19 bila bila menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang telah berkontak benda dengan droplet yang mengandung virus.2
Droplet yang dikeluarkan ketika batuk atau bersin dapat menempel pada benda berjarak satu meter. Oleh karena itu, penting untuk menjaga jarak satu meter satu sama lain.2 Ketika kita tahu bagaimana virus ini menular maka perlu kita ketahui kategori mana orang yang beresiko tertular dan menularkan.
Penduduk yang tinggal atau dengan riwayat bepergian ke daerah terjangkit dalam waktu 14 hari terakhir berpotensi tinggi tertular dan menularkan zona yang dimaksud adalah zona merah zona kuning pada pembagian zona.2 selain itu, orang yang berkontak erat dengan pasien covid-19, termasuk petugas kesehatan dan pelaku rawat pasien, juga berisiko tinggi.1
Pada orang dewasa dan anak-anak dengan sistem imun yang baik menunjukkan gejala ringan (flu like illness, sakit kepala, atau keluhan gastrointestinal) bahkan asimtomatik atau biasa disebut orang tanpa gejala (OTG).4-7 namun, golongan ini dapat menjadi carrier atau pembawa virus dan menyebarkannya ke kelompok rentan.
Pada kelompok rentan, gejala dan komplikasi yang ditimbulkan sangat parah, bahkan dapat menyebabkan kematian.2 kelompok rentan yang dimaksud adalah2:
· Golongan berusia lebih dari 50 tahun keatas.
· Orang dengan penyakit medis sebelumnya (komorbid), seperti Hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru, kanker, atau diabetes.
· Orang dengan imunokompromi, seperti pasien kemoterapi dan orang dengan hiv dan aids (odha).
Dalam hal ini dibutuhkan pencegahan dalam masa kepaniteraan karena masuk dalam kategori besiko tinggi untuk terkena covid-19. Pencegahan apa saja yang dapat kita lakukan dalam menjalani kegiatan kepaniteraan. Akan saya ilustrasikan dalam beberapa poster di bawah ini:














