Wednesday, January 11, 2017

BIMBINGAN PENELITIAN IPD 16

BIMBINGAN PENELITIAN IPD 16 

Disampaikan oleh : 
dr. Suzanna Ndraha, Sp. PD, KGEH FINASIM

Diringkas oleh : 
Valenchia Jeandry

Penelitian adalah karya tertinggi dalam dunia ilmiah yang seringkali dilakukan oleh ilmuwan, termasuk dokter yang dapat dipublikasikan ke dalam media massa. Bentuk publikasi dari penelitian disebut dengan original article. Penelitian yang dilakukan harus sesuatu yang baru.
            Persiapan yang diperlukan untuk membuat penelitian adalah membuat proposal penelitian. Proposal penelitian harus dibuat sebelum melakukan penelitian. Susunan dalam pembuatan proposal penelitian terdiri dari :
1.      Judul
2.      Isi 
-          Bab I         : Pendahuluan
-          Bab II        : Tinjauan Pustaka, Kerangka Teori, Kerangka Konsep
-          Bab III      : Metode Penelitian
3.      Daftar Pustaka
4.      Lampiran

ABSTRAK
            Abstrak adalah rangkuman dari penelitian yang dilakukan. Abstrak yang baik berisi tidak lebih dari 250 kata. Abstrak dapat terbagi menjadi :
-          Abstrak Terstruktur
Abstrak terstruktur adalah abstrak yang menuliskan sub judul (background, method, result, conclusion).
-          Abstrak Tidak Terstruktur
Abstrak tidak terstuktur adalah abstrak yang tidak menuliskan sub judul.

BAB I – PENDAHULUAN
            Pendahuluan adalah bagian yang bertujuan untuk meyakinkan pembaca bahwa penelitian yang dilakukan penting untuk diketahui oleh kalangan yang dituju. Pendahuluan dibuat secara singkat ± 1 halaman. Pendahuluan terdiri dari :
1.      Latar Belakang
Latar belakang dibuat dalam bentuk singkat ± 1-2 paragraf.
2.      Rumusan Masalah
Rumusan Masalah berfungsi untuk menjelaskan masalah-masalah yang akan di angkat dalam penelitian.
3.      Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian terbagi menjadi dua :
-          Pertanyaan umum : bersifat mencakup seluruh judul
-          Pertanyaan khusus : bersifat spesifik, terbagi menjadi sub-sub judul
4.      Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian harus sama dengan pertanyaan penelitian, hanya saja kata-kata “mengapa, dan bagaimana….” dalam pertanyaan penelitian diganti dengan “diketahuinya keberhasilan …”.
5.      Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam penelitian. Hipotesis penelitian hanya digunakan dalan penelitian yang bersifat analitik. Sedangkan penelitian yang bersifat deskriptif tidak menggunakan hipotesis penelitian.
6.      Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian harus berkaitan dengan tujuan penelitian untuk dapat menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
Contoh : setelah diketahui perbedaan evikasi metformin dan glibenklamid, dan glibenklamid lebih tinggi, maka ….

BAB II – TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP
1.      Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka atau referat harus dibuat secara lengkap, perbanyak porsi untuk terapi yang diperlukan. Dalam pembuatan tinjauan pustaka harus ada kesamaan antara tinjauan pustaka dengan judul penelitian. Tinjauan pustaka yang dibuat harus bersumber dari literatur-literatur resmi dan terpercaya yang dipublikasikan maksimal 10 tahun sebelum penelitian dilakukan.
2.      Kerangka Teori
Kerangka teori adalah seluruh materi yang terdapat didalam tinjauan pustaka akan dibuat dalam bentuk skematis berupa bagan. 
3.      Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah konsep yang dilakukan dalam penelitian.

BAB III – METODE PENELITIAN
            Metode penelitian adalah pembahasan mengenai data dan cara pengambilan data, terdiri dari :
a.       Desain
b.      Tempat dan waktu
c.       Populasi dan sampel
d.      Cara pengambilan sampel  
e.       Besar sampel
f.       Kriteria inklusi dan eksklusi
g.      Identifikasi variable
h.      Batasan operasional
i.        Alur penelitian
j.        Cara kerja
k.      Analisis data
l.        Masalah etika
m.    Jadwal penelitian
n.      Anggaran penelitian

Pembuatan proposal penelitian hanya sampai pada bab III disertai daftar pustaka dan lampiran. Daftar pustaka menggunakan Vancouver, dan lampiran berisikan formulir isian penelitian.
            Perbedaan proposal penelitian dan judul penelitian :
v  Proposal Penelitian :
-          Judul
-          Isi 
-          Bab I         : Pendahuluan
-          Bab II        : Tinjauan Pustaka, Kerangka Teori, Kerangka Konsep
-          Bab III      : Metode Penelitian
-          Daftar Pustaka
-          Lampiran
v  Laporan Penelitian :
-          Judul
-          Isi 
-          Bab I         : Pendahuluan
-          Bab II        : Tinjauan Pustaka, Kerangka Teori, Kerangka Konsep
-          Bab III      : Metode Penelitian
-          Bab IV      : Hasil Penelitian
-          Bab V        : Pembahasan
-          Kesimpulan (tanpa bab)
-          Daftar Pustaka
-          Lampiran

ORIGINAL ARTICLE
            Original article adalah bentuk publikasi dari penelitian, terdiri dari :
1.      ABSTRACT
Pembuatan abstrak total kata maksimal sebanyak 250 kata. Abstrak dapat dibagi dua jenis yaitu :
-          abstrak terstruktur          : background, method, result, conclusion
-          abstrak tidak terstruktur : tidak terdapat subjudul seperti pada abstrak terstruktur
Cantumkan keyword pada abstrak. Keyword terdiri dari 3-5 kata yang paling sering disebutkan dalam jurnal penelitian, dan merupakan kata yang penting.
2.      INTRODUCTION
Introduction adalah ringkasan dari BAB I yaitu pendahuluan. Teori yang digunakan harus dicantumkan dalam daftar pustaka, cantumkan tujuan pustaka.
3.      METHOD
Method adalah ringkasan dari BAB III.
4.      RESULT
Result adalah hasil yang didapatkan secara objektif.
5.      DISCUSSION
Discussion adalah perbandingan dengan penelitian lain.
6.      CONCLUSION

Conclusion adalah jawaban dari penelitian.

BIMBINGAN CASE REPORT IPD 16


BIMBINGAN CASE REPORT IPD 16

Disampaikan oleh:
 dr. Suzanna Ndraha SpPD KGEH FINASIM

Diringkas oleh:
 Maria Firstly Lorincia Awarawi S.Ked




Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan case report:
  • Case report diawali dengan abstrak, kemudian pendahuluan, kasus, diskusi dan ditutup dengan kesimpulan.
  • Jumlah kata dalam abstrak yang dicantumkan tidak boleh lebih dari 250 kata.
  • Kata kunci atau keyword terdiri dari tiga sampai lima kata, kata yang digunakan adalah kata yang paling penting dan paling sering diulang dalam penulisan.
  •  Bagian pendahuluan dan bagian diskusi harus dilengkapi dengan rujukan pustaka.
  •  Bagian kasus berisi ringkasan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis atau daftar masalah dan terapi.
  • Diagnosis pada kasus harus sesuai dengan keluhan utama
  •  Diskusi dalam case report berisi apa saja yang dibicarakan saat presentasi kasus seperti pertanyaan yang diajukan dan narasumber yang membahas. Setiap diskusi harus membandingkan kasus yang kita buat dengan tulisan di literature yang layak menjadi acuan. Maka dalam pembahasan diskusi harus ada rujukan pustaka.
  •  Penulisan daftar pustaka harus mengikuti style Vancouver
  •  Daftar pustaka minimal terdapat enam rujukan dengan sumber rujukan maksimal 10 tahun yang lalu.
 

Tuesday, January 10, 2017

BIMBINGAN BEDSIDE TEACHING IPD 16


BIMBINGAN BEDSIDE TEACHING IPD 16
9 Januari 2017

disampaikan oleh : dr.Suzanna Ndraha, Sp.PD, KGEH FINASIM


diringkas oleh Muhammad Izzat 




Seorang lelaki berumur 60 tahun dengan keluhan nyeri perut.
Keluhan utama
Keluhan utama yang dinyatakan oleh pasien merupakan dasar utama untuk memulai evaluasi masalah pasien atau dapat disebut sebagai keluhan pasien yang mendorongnya untuk berobat. Untuk menuliskan keluhan utama perlu diingatkan keluhan utama :
1 - tidak didiskripsikan.
2 - terdiri dari 2 komponen (keluhan dan berapa lama)
3 - yang membawa pasien datang ke rumah sakit

Assesment :
Assesment atau penilaian menentukan langkah tatalaksana selanjutnya. Dalam assesment dilakukan penilaian terhadap perkembangan diagnosis setelah ada perubahan keluhan,perubahan penemuan fisik, dan adanya hasil pemeriksaan penunjang. Biasanya terdiri dari daftar masalah dan cukup dari keluhan yang didapat sahaja.
-          Data apa saja yang diperlukan untuk assesment: riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang
Demam
Demam berterusan bisa disebabkan oleh :
- sepsis
            -DBD hari pertama,kedua dan ketiga
Bila dilakukan hitung jenis :
kalau bakterial > netrofil yang meningkat
            Kalau viral > limfosit yang meningkat
Demam bisa disebabkan oleh infeksi atau inflamasi.
Demam berdarah dengue biasanya berlaku hemokonsentrasi.
Pemeriksaan Fisik
Auskultasi :
-pneumonia biasanya berawal dari basal
-Tarik nafas supaya lebih waktu menilai kelainan saat inspirasi
-Suara napas ada 3 macam yaitu



Nyeri :
Jika palpasi nyeri,tempat yang nyeri di palpasi paling akhir.
Palpasi superfisial untuk nyeri dalam, palpasi dalam untuk mencari massa.
Somatik (tempat sama sesuai organ)
            Viseral (berubah-ubah)
            Kolik (terdapat episode bebas nyeri)
Ada dua teknik pemeriksaan fisik yang dapat membantu untuk mengkonfirmasi adanya ascites:
  • Pemeriksaan shifting dullness (perkusi beda bergeser). Setelah perkusi dilakukan untuk mengetahui perbatasan antara perkusi timpani dan beda dengan pasien dalam posisi supine, selanjutnya instruksikan pasien untuk miring ke satu sisi. Perkusi kembali dilakukan dan tandai perbatasan timpani-beda lagi. Pada pasien tanpa ascites, perbatasan antara timpani dan beda biasanya tetap.
  • Pemeriksaan Undulasi .Instruksikan pada pembantu atau perawat untuk menekan tepi tangan dengan tegas garis tengah perut. Tekanan ini membantu untuk menghentikan transmisi gelombang melalui lemak. Dokter dengan ujung-ujung jarinya mendorong cepat pada satu sisi, dan merasakan dorongan di sisi yang berlawanan melalui cairan. Sayangnya, pemerikssaan ini sering negatif sampai ascites jelas terlihat, dan kadang-kadang positif pada pasien tanpa asites.
Pemeriksaan flapping tremor
Asteriksis (juga disebut flapping tremor, atau liver flap) adalah tremor tangan ketika pergelangan tangan diekstensi. Gangguan motor ini ditandai oleh ketidakmampuan untuk secara aktif mempertahankan posisi, yang ditunjukkan oleh gerakan menyentak tangan terulur saat ditekuk ke atas di pergelangan tangan. tremor yang disebabkan oleh fungsi abnormal dari pusat motorik diencephalic di otak, yang mengatur otot-otot yang terlibat dalam mempertahankan posisi. Flapping tremor dikaitkan denganencephalopati hepatikum.



Periksa Jaundice :
-          tangan kiri di mata, tangan kanan arahkan kebawah.
Pemeriksaan Penunjang
Foto thoraks
Foto yang mengarah ke keluhan sesak :
-          infiltrat – sesak akibat infeksi (pneumonia)
-          oedem paru – sesak akibat decomp cordis

Anamnesa Sistem : penting supaya tidak terlewatkan sebarang keluhan.
Admission Note :
-terdiri dari data dasar
-anamnesa saat datang + PF pertama kali + Lab pertama kali
-dalam bentuk POMR (dari keluhan utama sampai kesimpulan)
Bentuk Tradisional (Keluhan utama sampai Prognosis)
Progress Note : SOAP

Terapi :
-          Untuk konstipasi, mulai dari pencahar pembentuk massa (laktulosa atau yal enema)
Diteruskan dengan penguat peristaltik (bisacodyl)

Bimbingan Terapi Insulin


Bimbingan Terapi Insulin


Disampaikan oleh : dr.Suzanna Ndraha, Sp.PD, KGEH FINASIM

Image result for suzanna ndraha


Diringkas oleh : Ogi Leksi Susanto, S,Ked


DM (Diabetes Mellitus) merupakan suatu penyakit metabolik endokrin yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa didalam darah lebih dari normal. DM dapat terjadi akibat menurunnya kadar insulin baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Untuk bisa mendiagnosa DM pasien harus memiliki gejala trias DM yaitu (polifagi, polidipsi, dan poliuri) serta GDS (glukosa darah sewaktu) harus ≥ 200mg/dL atau GDP (glukosa darah puasa) ≥ 126mg/dL. Jika pasien tidak memiliki gejala trias DM maka GDS atau GDN harus diulang, dan jika hasilnya lebih dari normal maka pasien dapat di diagnosa DM, berikut adalah protokol untuk mendiagnosa DM

Jika kita sudah bisa mendiagnosa pasien DM maka kita juga harus tau cara mengendalikan DM nya, karena DM terjadi akibat defek dari insulin baik secara kuantitaif maupun kualitatif bukan berarti pengobatan DM harus selalu menggunakan insulin. Pasien DM pertama kali harus di edukasi untuk diet DM dan melaksanakan pola hidup sehat, jika diet dan pola hidup sehat gagal untuk mengontrol gula darah, maka terapi berikutnya adalah dengan OHO (obat hipoglikemik oral). Lini pertama dari OHO adalah metformin, tetapi metformin kontraindikasi untuk pasien dengan gagal ginjal terminal dan gangguan lambung karena dapat menimbulkan asidosis laktat. Berikut adalah protokol penanganan DM. 


Insulin merupakan tahap terakhir dari pengobatan terhadap pasien DM tipe 2, indaksi untuk penggunaan insulin adalah
  1. DM tipe 1
  2. Gagal OHO baik primer (tidak pernah bisa terkontrol biarpun dengan OHO dosis maksimal), maupun  Sekunder : (Pernah terkontrol denga  OHO, lama kelamaan menjadi tidak bisa terkontrol)
  3.  Hamil
  4. Gagal ginjal terminal
  5. Infeksi berat dan akut
  6. Pankreatitis
  7. Stress akut (infeksi, gagal jantung)
Insulin ada 2 macam yaitu prandial (insulin R) dan basal (insulin N), insulin prandial adalah insulin yang diberikan untuk mengendalikan glukosa darah akibat makanan/minuman karena memiliki masa kerja yang singkat. Sedangkan insulin basal adalah insulin yang diberikan pada malam hari saat pasien akan tidur untuk mengendalikan glukosa darah yang dihasilkan oleh hepar saat pasien tidur (hepatic glucose production) karena memiliki masa kerja yang panjang. Dosis untuk memulai insulin basal adalah 0,1 - 0,2 unit/kgBB/hari, asumsi berat 50kg maka dosisnya 10 unit/hari. Prinsip dari penggunaan insulin adalah “Start low, go slow” Karena jika kita memberikan dosis terlalu tinggi bisa menyebabkan hipoglikemi, dan sangat berbahaya bagi pasien.

Orang yang tidak memiliki penyakit DM dan tidak minum OHO ataupun tidak memakai insulin tidak bisa hipoglikemi, kecuali jika orang tersebut mengalami gagal hati seperti sirosis, sehingga hepar tidak lagi adekuat dalam menghasilkan glukosa pada saat orang tersebut tidur sehingga menyebabkan hipoglikemi. Dalam pemberian insulin basal harus berhati-hati, karena jika diberikan terlalu banyak dapat menimbulkan efek somogyi yaitu dimana kadar glukosa darah pagi meningkat akibat dari terlalu besarnya dosis insulin basal yang diberikan sehingga pada malam hari pasien mengalami hipoglikemi, untuk mengkompensasi hipoglikemi tersebut hepar meningkatkan hepatic glucose production sehingga pada pagi hari didapatkan kadar glukosa darah yang tinggi. Cara mengatasinya adalah dengan menurunkan dosis insulin basal.

   Untuk menghitung total dosis insulin perhari menggunakan 0,5 unit x KgBB, sebagai contoh : berat badan 60kg maka dosis insulin perhari adalah 60 x 0,5unit = 30 unit/hari. Untuk dosis prandial diambil 60% dari dosis total jadi 30Ux 60% = 18 unit, 18 unit tersebut dibagi menjadi 3 dosis yaitu 6 unit untuk makan pagi (06.00), 6 unit untuk makan siang (12.00), dan 6 unit lagi untuk makan malam (18.00). sedangkan untuk dosis basalnya diberikan 40% dari dosis total jadi 30U x 40% = 12 unit.


Komplikasi dari DM yang sering kita dengar adalah KAD (ketoasidosis Diabetik). KAD ditandai dengan Glukosa darah ≥ 300mg/dL, aseton positif, dan asidosis metabolik. Penanganan KAD harus segera dan tidak boleh ditunda, untuk penanganannya dimulai dengan dosis insulin R drip 5U/jam dan cek GDS tiap 1 jam, apabila dalam 1 jam gula darah tetap  ≥ 300mg/dL maka dinaikan menjadi 6U/jam apabila gula darah tetap ≥ 300mg/dL maka dinaikan menjadi 7U/jam, dan dicek terus gula darah tiap jam, apabila masih tetap ≥ 300mg/dL naikan jadi 8U, 9U, 10U… dan seterusnya setiap jam nya sampai gula darah mencapai 200mg/dL-300mg/dL, jangan takut untuk menambahkan dosis insulin tiap jamnya, karena insulin tidak mempunyai limit dose yang artinya dosis insulin bisa sampai sebesar apapun untuk mencapai gula darah yang stabil. Apabila gula darah sudah turun  mencapai 200mg/dL-300mg/dL maka dosis insulin dapat diturunkan menjadi 1U-2U/jam + SS/4 jam dan dalam 24 jam ke 2 SS/6 jam, bila GDS  ≤ 200mg/dL makan drip dapat dihentikan, namun apabila GDS ≤ 100mg/dL maka infuse diganti dengan D5%.


Dosis bolus insulin R untuk hiperglikemi adalah sebagai berikut :
  • <200mg/dL : tidak diperlukan koreksi
  • 200-250mg/dL = 5U
  • 250-300mg/dl = 10U
  • 300-350mg/dl = 15U
  • >350mg/dl = 20U
Mengkonversi insulin R menjadi insulin N dapat menggunakan cara sebagai berikut, contoh pasien mendapatkan insulin R 3x10U dan insulin N 10U per hari, berarti pasien tersebut mendapat kan insulin R 30U/hari, maka untuk menkonversi menjadi N, total dosis insulin R : 2 sehingga menjadi 15U. Pasien tersebut pada awalnya juga menggunakan insulin N 10U, sehingga total dosis insulin N nya menjadi 25U/hari. dosis total tersebut dibagi menjadi 2 dosis namun untuk memudahkan pembagian dosis nya maka total dosis dibulatkan menjadi 24U/hari... Jadi 2/3 dosis yaitu 16U digunakan pada pagi hari (06.00), dan 1/3 dosis yaitu 8U dipakai untuk sore hari (18.00).