Friday, June 17, 2016

RINGKASAN BIMBINGAN IPD-12 TERAPI INSULIN



Terapi Insulin
dr.Suzanna Ndraha, SpPD KGEH FINASIM

Diringkas oleh: Adinda Aotearoa


Indikasi rawat pada pasien diabetes mellitus
1.    KAD
2.    Gangren
3.    Hipoglikemia
4.    Infeksi akut berat (seperti pneumonia, selulitis, dsb)

Indikasi pemberian insulin
Temporal                                                      Permanen
-       Kadar gula terlalu tinggi                             - Gagal OHO (primer/sekunder)
-       Hamil                                                             - Efek samping obat OHO
-       Stres fisik berat                                            - DM tipe 1
Infeksi                        : Sepsis                      - Gangguan hati berat
Non infeksi   : Gagal jantung, Stroke       - Gagal ginjal
-       Underweight                                                
-       Perioperatif                                                  
-       Serangan jantung/stroke   
      
Ko      Konsep terapi insulin:
-       Basal insulin (Bedtime/drip): Kendalikan produksi glukosa hati
-       Food prandial insulin (Fixed dose): Berdasarkan asupan karbohidrat
-       Correction Supplemental insulin (Sliding scale): Mengobati peningkatan akut GD

Analog insulin
Short acting              basal (long acting)
-       Lispro                        - glargine (lantus)
-       Aspart                        - levemir

Kurva Gula Darah Harian (KGDH) : digunakan untuk mengetahui apakah dosis insulin sudah tepat atau belum. KGDH diambil saat preprandial
            06.00 - Menggambarkan produksi glukosa hati                                   Insulin Basal
            11.00 - Menggambarkan asupan karbohidrat pagi hari                      Insulin Prandial
            16.00 - Menggambarkan asupan karbohidrat siang hari       Insulin Prandial

Insulin basal bolus
Total dosis insulin = 0,5UxKg
Total prandial dosis insulin= 60%xTotal dosis insulin                      
            -breakfast 1/3xTotal dosis insulin
            -lunch 1/3xTotal dosis insulin
            -dinner 1/3xTotal dosis insulin
Total basal dosis insulin= 40%xTotal dosis insulin

Bila pemberian insulin terakhir pada malam hari melebihi dosis, maka akan terjadi hipoglikemia yang membuat tubuh mengkompensasi dengan memecah glucagon pada hati sehingga pada pagi hari didapatkan gula darah yang tinggi, hal ini disebut somogyi effect. Sedangkan jika dosis insulin terakhir diberikan terlalu sedikit, maka tidak menurunkan gula darah pada pagi harinya hal ini disebut dengan dawn phenomenon.




SLIDE PRESENTASI BIMBINGAN HIPERTENSI



BIMBINGAN HIPERTENSI
dr Suzanna Ndraha SpPD KGEH FINASIM








RINGKASAN BIMBINGAN IPD-12 : HIPERTENSI




Bimbingan Hipertensi
dr Suzanna Ndaraha Sp.PD, KGEH, FINASIM



Diringkas oleh: Yolanda Inggriani



Klasifikasi Hipertensi yang terbaru yang digunakan saat ini adalah klasifikasi Hipertensi menurut JNC VIII yang dikeluarkan pada tahun 2013. Perbedaan dari klasifikasi menurut JNC VII dan JNC VIII adalah pada target  sasaran tekanan darah. Pada JNC VII target tekanan darah nya adalah 140/90 pada semua usia, sedangkan pada JNC VIII target tekanan darah pada usia < 60 tahun adalah 140/90, dan target tekanan darah pada usia >60 tahun adalah 150/90.
Klasifikasi Hipertensi :
-       Hipertensi Border Line
-       Hipertensi Stage I
-       Hipertensi Stage II
-       Isolated Systolic Hypertension ( tekanan sistolik >140 dengan tekanan diastolic normal <90):
a.    Primer à pada lansia
b.    Sekunder à pada penyakit tertentu
Berdasarkan etiologinya, Hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu:
-       Hipertensi primer à merupakan penyakit degenerative, idiopatik (berhubungan dengan usia), terdapat pada 90% kasus, laki-laki lebih banyak dari perempuan
-       Hipertensi sekunder à ada penyebabnya, usia muda, laki-laki lebih banyak dari perempuan
Diagnosa hipertensi primer atau sekunder dapat ditegakkan apabila pasien sudah 2x kunjungan ke dokter dengan tensi > 140/90.
Pada hipertensi sekunder harus dicari tahu dan diobati terlebih dahulu penyakit yang menjadi penyebab hipertensi tersebut. Penyakit yang biasa menjadi penyebab pada hipertensi sekunder adalah Glomerulonefritis, Hipertiroid, Cushing syndrome, Conn disease, stenosis arteri renalis. Pada penyakit hipertensi ini ada beberapa organ yang juga menjadi organ target komplikasi hipertensi, diantaranya adalah:
-       Ginjal à CKD à lemas, sesak, oedem pada tungkai atau wajah
-       Jantung à HHD à CHF à dispneu d’effort, JVP meningkat, ortopneu, oedem tungkai
-       Mata à Retinopati Hipertensi à gangguan penglihatan
-       Otak à Stroke Hemoragik (sakit kepala hebat, penurunan kesadaran) dan Stroke Non hemoragik (lumpuh sebelah, bicara pelo)
Biasanya pasien mengeluhkan sakit kepala dan menganggap sakit kepala nya merupakan salah satu manifestasi klinis dari Hipertensi. Pada dasarnya sakit kepala yang dirasakan pasien bukan merupakan sebuah gejala yang dirasa saat hipertensi melainkan sakit kepala yang dirasa merupakan Tension Type Headache.
Krisis Hipertensi
-       Hipertensi Emergensi (HE) à sudah mengenai target organ
-       Hipertensi Urgensi (HU) à belum mengenai target organ
Pada Hipertensi Emergensi target tatalaksananya adalah penurunan nilai MAP 20-25% dalam 1 jam, sedangkan pada Hipertensi Urgensi penurunan nilai MAP dalam 24 jam.



First Line : ACE inhibitor, ARB, CCB, Diuretik
Stage I à 1 obat
Stage II à 2 obat
Nb: ACE inhibitor dan ARB tidak boleh diberikan bersamaan karena mempunyai kegunaan yang sama.

Contoh Kasus:
            Seorang laki-laki datang ke poliklinik penyakit dalam hanya untuk konsultasi. Tidak ada riwayat Hipertensi sebelumnya ataupun riwayat penyakit lain. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan tensi saat itu 160/100. WD? Tatalaksana?
-    WD : Hipertensi Reaktif ( Tekanan darah temporer saat itu saja) tidak diberikan terapi. Namun bila dalam kunjungan berikutnya TD tetap tinggi maka Diagnosis Pasti: Hipertensi stadium 2








Wednesday, June 15, 2016

RINGKASAN BIMBINGAN IPD12- TERAPI CAIRAN



RINGKASAN BIMBINGAN IPD12- TERAPI CAIRAN

Terapi cairan merupakan suatu upaya penggantian cairan tubuh yang hilang. Penggantian cairan tubuh yang hilang dapat dilakukan dengan pemasangan infus. Alasan dilakukannya pemasangan infus, yaitu:

1.    Syok Hipovolemik
Syok hipovolemik bisa disebabkan karena adanya perdarahan atau diare, dan ditandai dengan adanya akral dingin, takikardi, dan hipotensi. Pada syok hipovolemik biasanya diberikan cairan kristaloid (Nacl, RL, Asering) atau cairan koloid. Jika syok disebabkan karena perdarahan (>20%), maka syok dapat ditangani dengan pemberian infus NaCl terlebih dahulu sebelum dilakukan pemberian tranfusi.

2.    Drip Obat
Pemberian drip obat yang paling sering yaitu drip kalium. Kalium tidak boleh diberikan bolus, karena dapat menyebabkan cardiac arrest. Kalium sebelumnya harus dicampur terlebih dahulu dengan NaCl, RL, atau asering. D5 tidak dianjurkan dicampurkan dengan kalium, kecuali pada keadaan hiponatremi. Hal tersebut disebabkan karena larutan D5 dapat merangsang peningkatan sekresi insulin yang dapat menyebabkan pemasukan kalium kedalam sel, sehingga kadar kalium dalam vaskuler tetap rendah.

Selain kalium, obat drip lain, yaitu biknat. Sama halnya dengan pemberian kalium, pemberian biknat harus diencerkan terlebih dahulu karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit jika tanpa pengenceran. Biknat biasanya dicampurkan dengan larutan D5, dan tidak dianjurkan diberikan dengan NaCl atau larutan elektrolit lain, karena elektrolit tersebut dapat berinteraksi dengan biknat, sehingga dapat menyebabkan pengendapan garam.

Biknat biasanya diberikan seluruhnya sesuai dengan hasil koreksi rumus biknat pada pasien CKD, sedangkan pada pasien intoksikasi alkohol dan hipoksia, hasil perhitungan koreksi biknat hanya diberikan setengahnya, dan pada pasien KAD biasanya tidak perlu dilakukan koreksi biknat.    
      
3.    Pemberian Nutrisi
Pemberian cairan infus dapat bertujuan untuk memberikan nutrisi pada pasien. Nutrisi yang diberikan dapat berupa partial parenteral nutrition dan total parenteral nutrition. Total parenteral nutrition biasnaya diberikan pada pasien ileus atau pasien pankreatitis. Kebutuhan nutrisi yang diperlukan, berupa cairan (30-50ml/KgBB), elektrolit (Na= 2mEq/KgBB, K= 1mEq/KgBB), protein (0,8 gr/KgBB), dan kalori (Lk= 30kal/KgBB, Pr= 25kal/KgBB).

4.    Tranfusi
Sebelum dilakukan tranfusi, biasanya diberikan larutan NaCl fisiologik terlebih dahulu sebagai persiapan tranfusi.


Bimbingan kepaniteraan dr Suzanna Ndraha


           Diringkas oleh: Putri Handayani






Thursday, February 25, 2016