Saturday, August 6, 2016

RANGKUMAN DIABETES & DYSLIPIDEMIA: Penanganan Dini

RANGKUMAN DIABETES & DYSLIPIDEMIA: Penanganan Dini

Disampaikan oleh: Dr. Benny Santosa, SpPD-KEMD 

Diringkas oleh: Nik Nabila

Secara epidemiologi berdasarkan International Diabetes Federation 2013, prevalensi diabetes mellitus (DM) di Indonesia adalah sekitar 8,5 juta orang. Namun pada tahun 2014, jumlah pasien meningkat ke 9,116 juta orang dan diperkirakan pada tahun 2035, prevalensi DM di Indonesia menjadi 14,152 juta.

Faktor resiko DM termasuklah:
i.             Usia
ii.            Jenis kelamin
iii.           Riwayat penyakit DM tipe gestasional
iv.          Riwayat keluarga dengan DM
v.           AKtivitas fisik
vi.          BMI

DM dapat diklasifikasikan menjadi DM tipe 1, DM tipe 2 dan DM gestasional. Perbedaan DMT1 dan DMT2 dapat dilihat pada tabel di bawah:


DMT1
DMT2
Patofisiologi
Destruksi sel β, defisiensi insulin absolut
Resistensi insulin dengan defisiensi insulin atau defek sekresi insulin dengan resistensi insulin
Usia
Semua
> 30 tahun
Berat Badan
Kurus
Obese
Onset
Cepat
Lama
Simptom
Hiperglikemia, ketosis
Klasik
Terapi
Insulin
Mungkin memerlukan insulin

Terdapat berbagai organ tubuh yang berperan dalam regulasi kadar glukosa dalam darah. Saluran cerna berfungsi untuk mengabsorbsi makanan dan memproduksi hormon incretin yang bertujuan menginduksi sekresi insulin. Organ pancreas memproduksi insulin yang membantu meningkatkaln penyerapan glukosa Selain itu, pancreas juga memproduksi glucagon yang membantu menghasilkan glukosa pada saat puasa dengan mengubah glikogen menjadi glukosa. Hati berfungsi menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen. Otot juga berperan dalam regulasi gula darah. Otot menjadi organ utama untuk metabolism glukosa yaitu sekitar 70-80 % dengan bantuan insulin.

DMT1
DMT1 adalah penyakit yang didasari oleh imunologi dan genetik dengan periode asimptomatik yang lama. Cara untuk membantu mendeteksi DMT! adalah dengan deteksi autoantibodi yang merusak sel β. > 90 % pasien yang baru terdiagnosa DMT1 mempunyai ≥ 1antibodi yang bersirkulasi dia dalam darah. Nilai ≥ 2 mengindikasikan bahwa pasien mempunyai resiko menderita DMT1 dalam waktu 5 tahun.

DMT2
Terdapat dua faktor penting yang saling berinteraksi dalam patofisiologi DMT2 yaitu faktor genetik dan faktor environmental. Faktor genetik menyebabkan defisisensi insulin sedangkan faktor environmental menyebabkan terjadinya resistensi insulin. Resistensi insulin ini yang mengakibatkan terjadinya peningkatan produksi glukosa di dalam hati dan jumlah uptake glukosa dalam otot berkurang sehingga kedua hal ini akan menyebabkan peningkatan gula darah di dalam tubuh.

Manifestasi Klinis DMT1 dan DMT2

DMT1
DMT2
Sering BAK
Salah satu dari gejala DMT1
Sering haus
Infeksi berulang
Kelaparan
Penurunan visus
Berat badan menurun drastis
Luka yang sulit sembuh
Sangat lemas
Kesemutan

Kriteria Diagnostik DM berdasarkan PERKENI 

Gejala klasik DM + GDS ≥ 200 mg/dl

                    atau

Gejala klasik DM + GDP ≥ 126 mg/dl

                    atau

GD2PP ≥ 200 mg/dl

DM Gestasional
Deteksi dan diagnosis:
1.   Skrining dilakukan pada ibu hamil yang mempunyai faktor resiko menderita DMT2 pada saat pertama kali ke dokter dengan menggunakan kriteria diagnostic standar
2.   Pada ibu hamil yang tidak mempunyai riwayat DM, skrining dilakukan pada usia kehamilan 24-28 minggu dengan menggunakan OGTT 75g
3.   Setelah melahirkan, skrining harus tetap dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis DMT2. Pemeriksaan dilakukan 6-12 minggu postpartum dengan menggunakan pemeriksaan selain HbA1C.
4.   Wanita dengan riwayat DM gestasional harus dilakukan skrining berterusan minimal setiap 3 tahun.

Impaired: Fasting Glucose & Glucose Tolerance
·        Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT)
= Gula darah 100 – 125 mg/dl setelah 8 – 12 jam puasa
·       
         Toleransi glukosa Terganggu (TGT)
= Gula darah 140 – 199 mg/dl selama 2 jam OGTT

Pencegahan DM berdasarkan PERKENI

Deteksi awal
Perubahan Gaya Hidup
Terapi Farmakologi
Monitor Faktor Resiko
Populasi beresiko tinggi < 30 tahun

· Riwayat keluarga
· CVD
· Gaya hidup sedentary
· IFG atau IGT
· Hipertensi
· Hipertrigliseridemia, HDL ↓
· Riwayat DM gestasional
· Riwayat melahirkan anak > 4000g
· PCOS
- Diet DM
- Aktivitas fisik
- Penurunan berat badan

Tidak direkomendasikan
- Hipertensi
- Dislipidemia
- Berat badan
- Keadaan umum

OGTT 2 jam adalah metode yang paling sensitive untuk skrining DM

- Jika overweight, berat badan harus diturunkan 5 – 10%
- Olahraga selama 30 menit, 5 kali seminggu


Nilai standar yang digunakan oleh PERKENI untuk DM
 



Bukan DM
Toleransi Glukosa Terganggu
DM
GDS (mg/dL)
Plasma vena
< 100
100 – 199
≥ 200

Darah kapiler
< 90
90 – 199
≥ 200
GDP (mg/dL)
Plasma vena
< 100
100 – 125
≥ 126

Darah kapiler
< 90
90 – 99
≥ 100
  

 Langkah Diagnosa DM dan Gangguan Toleransi Glukosa



 Pilar Penatalaksanaan DM





Pengelolahan DM dimulai dengan pengatuan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Bila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolic berat, misalnya ketoasidosis, stress berat, berat badan yang menurun dengan cepat, dan adanya ketouria, insulin dapat segera diberikan.

Target Terapi

Resiko CVD (-)
Resiko CVD (+)
BMI (kg/m2)
18.5 - < 23
18.5 - < 23
Gula Darah


·      GDP (mg/dL)
< 100
< 100
·      GDPP (mg/dL)
< 140
< 140
A1C (%)
< 7.0
< 7.0
Tekanan Darah
< 130/80
< 130/80
Lipid


Kolestrol Total (mg/dL)
< 200
< 200
Trigliserida (mg/dL)
< 150
< 150
HDL (mg/dL)
> 40/ > 50
> 40/ > 50
LDL (mg/dL)
< 100
< 70

Obat Diabetes Oral di Indonesia

Insulin




No comments:

Post a Comment