Monday, June 19, 2017

Bimbingan IPD 18- Hepatitis Viral Akut dan Kronik






BIMBINGAN IPD 18 HEPATITIS VIRAL AKUT DAN KRONIK
Jumat 2 Juni 2017
Disampaikan oleh : 
dr. Suzanna Ndraha, Sp.PD, KGEH, FINASIM


Diringkas oleh :
Stevia Artha Natalia Purba



       
Hepatitis Viral Akut
Definisi : Infeksi sistemik yang dominan menyerang hati
Agen penyebab dari Hepatitis Viral Akut adalah:
1.      Viral hepatitis A (HAV)
2.      Viral hepatitis B (HBV)
3.      Viral hepatitis C (HCV)
4.      Viral hepatitis D (HDV)
5.      Viral hepatitis E (HEV)
Karakteristik Virus Hepatitis
1.      Hepatitis Virus A merupakan tipe virus RNA
2.      Hepatitis Virus E merupakan tipe virus RNA
3.      Hepatitis virus B merupakan tipe virus DNA tdd 6 genotipe (A-H)
4.      Hepatitis virus D merupakan tipe virus RNA, memerlukan bantuan HBV untuk ekspresinya
5.      Hepatitis virus C merupakan virus RNA tdd 6 genotipe (1-6)

Epidemiologi dan Faktor risiko terjadinya Hepatitis Virus Kronik
1.      Virus Hepatitis A
·         Masa inkubasi 15-50 hari ( rata-rata 30 hari )
·         Ada transmisi maternal neonatal
·         Akut
2.      Virus Hepatitis B
·         Inkubasi 15-180 hari ( rata-rata 60-90 hari)
·         Ada transmisi maternal-neonatal, maternal-infant
·         Virus HBV (+) di darah, semen, secret servikovaginal, saliva, cairan tubuh lain
·         Akut dan kronik
3.      Virus Hepatitis C
·         Inkubasi 15-160 hari (rata-rata 50 hari)
·         Maternal-neonatal : efisiensi dan frekuensi rendah
·         Umumnya kronik

Gambaran Laboratorium
·         SGOT dan SGPT meninggi bisa > 500 U/L
·         Bilirubin jarang > 10 mg/dl kecuali kolestasis
·         Fosfatase alkali normal/sedikit meningkat
·         Masa protrombin normal/ sedikit meningkat
·         Albumin normal/ sedikit menurun
·         Darah tepi normal/ leukopeni ringan

Gambar virology VHB

HBsAg
Anti HbS
Anti HBc
IgM anti HBc
HBeAg
HBV DNA
Hepatitis B Akut
+
-
+
+
+
+
Hepatititis B
Kronik
+
-
+
-
+/-
+
Pengidap
+
-
+
-
-
-
Vaksinasi
-
+
-
-
-
-
Sembuh
-
+
+
-
-
-

Gambar virology VHC

Anti HCV
(ELISA)
Anti HCV
(RIBA)
ALT
HCV RNA
Hepatitis C Akut
+/-
+/-
Meningkat
+
Hepatitis C Kronik
+
+
Meningkat
+
Pengidap
+
+
Normal
+
Sembuh
+
+
Normal
-
(+) palsu
+
-
Normal
-

Pengobatan Hepatitis Akut
1.      Rawat jalan kecuali mual-anoreksia atau gagal hati akut
2.      Kalori dan cairan cukup
·         Tidak ada rekomendasi diet khusus
·         Hindari alcohol
3.      Batasi aktivitas fisik, tergantung kelelahan/ malaise
4.      Tidak ada obat spesifik

Pencegahan HAV
1.      Vaksin HAV (yang dilemahkan)
·         Dewasa : Havrix (1440 u) 2 dosis dengan interval 6-12 bulan
·         Antibodi protektif terbentuk dalam 15 hari
Pencegahan HBV
1.      Vaksin HBV (rekombinan ragi)
·         Dewasa : 3 dosis pada bula 0,1,6
·         Booster hanya bila imunokompremise dengan booster < 10 mU/mL

Hepatitis Viral Kronik
Hepatits B Kronik
·         HbsAg (+) > 6 bulan
·         HBV DNA serum > 20.000 IU/mL (2x105 copies/mL )
·         Pada HBeAg (-) HBV DNA >2000 IU/ mL (2x 104 copies/ mL )
·         SGOT/SGPT  meningkat persisten/ intermiten
·         Biopsi hati nekro inflamasi sedang-berat
Carrier HBsAg inaktif
·         HBsAg (+) > 6 bulan
·         HBeAg (-), anti HBe (+)
·         HBV DNA serum < 2000 IU/ Ml
·         SGOT/SGPT persisten normal
·         Biopsi hati tidak ada tanda hepatitis kronik
Penatalaksanaan
Indikasi terapi antiviral
·         HbeAg positif, HBV DNA > 2x10 4 IU/ Ml, SGPT meningkat lebih dari sama dengan 2 kali batas atas normal
·         HbeAg negative, HBV DNA > 2X 103 IU/ml , SGPT meningkat lebih dari sama dengan 2 kali batas normal
Terapi antiviral
·         Imunomodulator : Interferon (Peg INF alfa : 180 ug sekali seminggu; lama terapi bila HBeAg (+) 16-24 minggu (consensus PPHI 2004 ) 48 minggu  (EASL 2009),bila HbeAg (-) 12 bulan
·         Antiviral : lamivudine (1x100 mg), adefovir dipivoksil (1x10mg), entecavir (1mg), telbivudin (1x600 mg), tenofovir 1x300mg minimal 12 bulan
·         Selama Tx: SGPT, HbeAg, HBV DNA setiap 3 bulan
·         Selama Tx : SGPT, HbeAg, HBV DNA  setiap 6 bulan
·         Antiviral : target serokonversi HbeAg à Anti HBe

Kriteria Penghentian
·         HBeAg (+) : serokonversi HbeAg, HBV DNA tidak terdeteksi, dipertahankan paling tidak 12 bulan
·         HBeAg (-) : HBV DNA tidak terdeteksi 3 x px interval tiap 6 bulan
Terapi antiviral jangka panjang diberikan pada:
·          Tidak terjadi serokonversi
·         Hepatitis B HbeAg negative
·         Sirosis hati HBV DNA positif

Hepatitis C kronik
·         Transmisi utama : transfuse darah
·         Maternal-neonatal : rendah, terutama ibu HIV
·         Tindakan medis : endoskopi, dialysis, perawatan gigi, operasi
·         Transmisi melalui hubungan rumah tangga : sangat rendah
·         Prevalensi pada pengguna narkoba : 80 %, pasien dialysis 70 %
Klinis
·         Infeksi akut : umumnya tanpa gejala, hanya 20-30% menunjukkan gejala hepatitis akut.
·         Hepatitis C : 70-90 % menjadi kronik , 15-20% kronik menjadi sirosis (perlu waktu 20 -30 tahun), 1-4 % sirosis menjadi kanker
·         HCV kronik à Sirosis : alcohol, ko infeksi HBV, HIV, laki-laki, usia tua
·         Ko infeksi HBV : Sirosis dan kanker meningkat
·         Ko infeksi HIV : Hepatotoksiksitas ARV meningkat
Diagnostik
·         Anti HCV dapat bertahan sampai 20 tahun, walau infeksi VHC dapat dihilangkan di saat akut.
·         HCV RNA : gambaran infeksi yang sebenarnya
·         Ada 6 genotipe : geografis (Indonesia umumnya genotype 1) à mempengaruhi prognosis, efektifitas INF
·         Genotipe 1 dan 4 : terapi 48 minggu
·         Genotipe 2 dan 3 : terapi 24 minggu
Penatalaksanaan
·         Anti HCV (+) à Periksa HCV RNA dan genotype
·         HCV RNA (+)  (dan SGPT > 2X ) à Indikasi terapi
·         Terapi : INF alfa dan ribavirin
o   INF alfa konvensional : 3xseminggu 3 MU sc
o   Peg INF 12 KD : sekali seminggu 1,5 ug/kgBB/kali
o   Peg INF 40 KD : sekali seminggu 180 ug
o   Ribavirin 800 mg-1200 mg/hari
·         Terapi non INF : Sofosbuvir 400 mg daclatasvir 60 mg
·         Lama Terapi
o   Genotipe 1 dan 4 : selama 48 minggu
o   Genotipe 2 dan 3 : selama 24 minggu

Sunday, June 18, 2017

Bimbingan IPD 18 Hipertensi

Bimbingan IPD 18 Hipertensi
Jum'at, 9 Juni 2017
Disampaikan oleh:
dr. Suzanna Ndraha, Sp. PD, KGEH, FINASIM



Diringkas Oleh:
Novita Sari



Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari atau sama dengan 140 dan diastolik lebih besar atau sama dengan 90 setelah beberapa kali pemeriksaan tekanan darah
Hipertensi berdasarkan etiologi dibagi menjadi 2, yaitu
  1. Hipertensi Primer
-          Penyebab tidak diketahui dan biasanya multifaktor
-          Biasanya terjadi pada usia 50'an tahun,  dimana proses degenerasi terjadi pada berbagai prgan tubuh seseorang
-          Hipertensi jenis ini lebih sering terjadi (90%)
  1. Hipertensi Sekunder
-          Penyebabnya diketahui
-          Biasanya pada orang usia yang muda
-          Hipertensi jenis ini lebih jarang terjadi (10%)

Krisis Hipertensi
-          Jika tekanan darah sistolik lebih dari atau sama dengan 180 mmHg dan diastolik lebih dari atau sama dengan 120 mmHg
-          Peningkatan tekanan darah yang mendadak dan sebelumnya tidak pernah mengalami peningkatan tekanan darah yang mendadak
Krisis hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu: Emergency Hypertension dan Urgency Hypertension

  1. Emergency Hypertension
Terdapat kerusakan target organ, tetapi masih reversible jika tekanan darah dapat diturunkan segera
  1. Urgency Hypertension
Tidak ada kerusakan target organ, sehingga tidak perlu terburu – buru untuk mencapai target tekanan darah

Isolated Systolic Hypertension
Jika tekanan darah sistolik >= 180 mmHg dan diastolik < 90 mmHg, biasanya banyak terjadi pada orang yang usia lanjut.

Target Organ
-          Jantung: Hipertrofi ventrikel kiri jantung, Angina/infark miokardium, dan gagal jantung
-          Otak    : Stroke / TIA
-          Penyakit Ginjal Kronik
-          Peyakit arteri Perifer
-          Retinopati


Treatment



Compelling Indication
Indication
Treatment Choice
Heart Failure
ACE I / ARB + BB + Diuretik + Spironolactone
Post – MI / Clinical CAD
ACE I / ARB and BB
CAD
ACE I, BB, Diuretic, CCB
Diabetes
ACE I / ARB, CCB, Diuretic
CKD
ACE I / ARB
Recurrent Stroke Prevention
ACE I /  Diuretic
Pregnancy
Labetalol ( First Line), nifedipine, methyldopa


Friday, June 9, 2017

BIMBINGAN IPD 18 - SOP KEGAWATDARURATAN IPD

BIMBINGAN IPD 18 - SOP KEGAWATDARURATAN IPD
Tanggal 29 Mei 2017

Disampaikan oleh:
dr Suzanna Ndraha Sp.PD, KGEH, FINASIM



Diringkas Oleh:
Ineke Putri



SOP Asam Basa Elektrolit
  • Pada pasien yang asidosis kita bisa menghitung dosis cairan yang dimasukkan yaitu 0,3 x BB(kg) x SBE (mmol/L); diberikan dengan drip 24 jam.
  • Jika HCO3 ↑ dengan tanda kussmaul yang jelas maka harus dikoreksi <12.
  • Jika asidosis metabolis pada keadaan pasien KAD akan dikoreksi jika ph 6-7; diberi 100 mmol karena dehidrasi + gula kalo dikoreksi menjadi normal.
  • Contoh kasus asisdosis metabolism selain CKD & KAD yaitu intoksikasi alcohol, shock, dan decomp; harus dikoreksi dengan dosis yang jumlahnya ½ dari dosis penuh karena reversible.
  • Asidosis metabolism pada CKD bersifat irreversible karena fungsi ginjal yang menurun maka banyak sampah yang akan beredar dalam darah dan darah bersifat asam sehingga timbullah asidosis, keadaan ini harus dikoreksi dengan dosis penuh
  • Asidosis respiratorik tidak boleh dikasih biknat karena nanti HCO3 dapat meninggi kembali, maka harus dikasih bronkodilator dan nebu.
  • Pada hipokalemi jika K < 2,5 koreksi dengan IV, jika K > 2,5 koreksi oral seperti KSR & aspartat. Tiap 100 mmol/L (4 vial @25 mmol) menaikkan 1 mmol/L; dimasukkan dalam 500 cc kristaloid, tidak ke dalam d5.
  • Jika pasien hiponatremi ringan anjurkan untuk menaikkan intake garam, jika < 130 keluhan lemas; jika < 120 keluhan penurunan kesadaran koreksi dengan NaCl 1 kolf/24 jam.


SOP Acute Kidney Injury (AKI)
  • Jika tidak ada riwayat penyakit ginjal sebelumnya dan nilai ureum kreatinin yang tinggi kembali menjadi normal maka kita bisa menyebutnya AKI
  • Pada AKI harus diberikan cairan yang cukup.
  • Pada prerenal biasanya disebabkan oleh dehidrasi; dapat diberikan cairan 3L/34 jam setalah itu check kembali, tetapi terapi ini tidak boleh diberikan pada pasien yang gagal jantung.
  • Jika pada renal biasanya disebabkan oleh obat-obat yang nefrotoksik seperti obat pada golongan aminoglikosida.
  • Jika pada post renal biasanya disebabka oleh masalah obstruksi.


SOP Chronic Kidney Disease (CKD)
  • Pada CKD konsumsi protein harus dibatasi. Harus konsumsi makanan yang menghasilkan sampah ureum sedikit seperti pada protein hewani. Dan sangat dilarang untuk mengkonsumsi tempe.
  • Pada CKD yang oliguri bisa diberikan injeksi furosemid bila gagal drip bila gagal kembali HD cito.
  • Pada CKD yang asidosis metabolic bida dikoreksi dengan bicnat jika gagal HD cito.
  • Jika ternyata pada kasis CKD yang infeksi dan anemia kita dapat koreksi dengan injeksi antibiotic seperti cefoperazon atau ceftriakson.
  • Pada CKD yang hiperkalemia dapat beri insuin R 10 U dalam dx 10% jika gagal HD cito.
  • Pada CKD yang ensefalopati langsung di HD cito.


SOP Ensefalopati Hepatik
  • Biasanya datang dengan melena.
  • Kasih protein serendah mungkin; s/d 10 g/hari selama 2 hari.
  • Kasih L-Ornitin L-Aspartat drip IV 20 g/hari diberikan selama fase akut, dosis maintenance oral 3x3 g; fungsinya untuk menurunkan ammonia darah.
  • Diberikan antibiotic dapat diberikan neomisin dan metronidazole.
  • Dapat diberikan laktulosa 60-120 ml / hari.


SOP Transfusi Darah Inkompatibel
  • Jika darah inkompatibel +/++, dokter harus mengisi surat persetujuan darah inkompatibel dahulu
  • Jika darah inkompatibel minor +++/++++, dokter dapat langsung meminta darah
  • Jika darah inkompatibel mayor atau kombinasi yaitu inkopatibel mayor dengan minor +/++ atau inkompatibel mayor dengan inkompatibel minor +++/++++ maka harus mengisi formulir permintaan pemeriksaan lanjutan, surat persetujuan darah inkompatibel, dan pasien mengisi informed consent serta diawasi dengan ketat.
  • Sebelum memberikan darah maka harus diberikan 1 amp deksametason 5 mg/mL dan 1 amp avil inj pretransfusi.


SOP Tatalaksana DBD Dewasa
  • Jika kita ingin mendiagnosis pasien ini DBD maka harus ditemukan adanya demam.
  • Pasien DBD akan dirawat jika trombosit , 100.000.
  • Indikasi transfusi trombosit jika ditemukan 2 keadaan yaitu adanya pendarahan massif dan jumlah trombosit <100.000/µL.
  • Diberi koloid jika ada hemokonsentrasi, ada bukti plasma leakage dan DSS.
  • Jika tidak ada perbaikan dengan terapi standard dan ada hemokonsentrasi maka anjurkan USG.
  • Jika ditemukan infeksi sekunder, DSS, perdarahan saluran cerna, dan plasma leakage maka indikasi diberi antibiotic.


SOP Protokol Penatalaksanaan Hematemesis Melena
  • Sebelumnya kita harus dapat membedakan apakah terdapat klinis sirosis atau bukan karena penatalaksanaannya akan berbeda.
  • Pada penatalaksanaan sirosis maka harus diberi tambahan vasiaktif drip sandostatin jika pendarahan tetap aktif, diberikan inpepsa atau laktulosa dan vit K.
  • Pada sirosis diberikan DH cair 6x 150-200 cc tetapi jika pada non sirosis diberi diet DL I cair 6 x 150-200 cc.


SOP Penatalaksanaan KAD
  • Keadaan KAD yaitu jika GDS > 300, aseton (+), asidosis metabolic (bila terkompensasi, HCO3 <18 mEq/L)
  • Diberikan infus NaCl sejak pertama datang, setelah 1 jam kemudian diberikan bolus iv sansulin R10 U dan dilanjutkan drip Sansulin R 5 U/jam.
  • Selalu periksa GDS tiap jam, bila GDS stabil 200-300 mg/dL, drip sansulin R diturunkan 1-2 U/jam+sliding scale/4 jam, dan selama 24 jam ke-2 sliding scale/6 jam.
  • Check ulang astrup jam ke-12, bisa dikoreksi dengan KCl dan biknat.

Bimbingan IPD 18 - SOP Terapi Cairan

Bimbingan IPD 18 - SOP Terapi Cairan

Tanggal 30 Mei 2017
Disampaikan oleh:
dr.  Suzanna Ndraha Sp. PD,  KGEH,  FINASIM




Diringkas oleh
Novita Sari



Indikasi terapi cairan

  • Kekurangan cairan atau dehidrasi

Pada pasien diare, muntah,  dan lain - lain
Jenis infus yang dipakai: Ringer Laktat,  Ringer Asering,  dan NaCl

  • Syok

Syok Kardiogenik (pasien decompensatio cordis): cairan sesedikit mungkin yaitu 1 Kolf/24 jam atau 6 tetes/menit

Syok hipovolemik ( pasien luka bakar,  diare,  perdarahan) : cairan diberikan guyur

  • Nutrisi

Kebutuhan kalori:
Laki laki: 30 kcal/kgBB
Perempuan: 25 kcal/kgBB

Kebutuhan protein: 1 - 2 gram/kgBB/hari

Kebutuhan lipid: 25% - 40% dari total kalori yang dibutuhkan

Kebutuhan cairan: 30 cc/kgBB

Kebutuhan Natrium 100mEq,  Kalium 1 mEq/kgBB, Kalsium 10 - 20 mEq/d,  Magnesium 8 - 16 mEq/d, Phosphorus 20 - 40 mmol

Zat nutrisi yang dibutuhkan:
1. Asam Amino
Tidak diberikan 3 hari pertama tidak apa - apa, jika nutrisi pasien cukup

2. Dekstrose
Hari pertama 25% kebutuhan total
Hari kedua 50% kebutuhan total
Hari ketiga 75% kebutuhan total
Hari keempat dan seterusnya 100% kebutuhan total

3. Fat/Lemak
Tidak harus diberikan pada hari pertama

4. Air dan Elektrolit
Harus dicukupi pada hari pertama,  kecuali pada pasien gagal jantung dan gagal ginjal yang anuria

5. Vitamin
Tambahan saja,  tidak wajib

6. Trace elemen
Tambahan saja,  tidak wajib


  • Pemberian Obat

Contoh obat - obatan yang diberikan melalui infus: insulin,  binat,  KCl,  dopamine,  dobutamine,  aminofilin


  • Transfusi

Harus diberikan cairan yang paling fisiologi,  yaitu: NaCl


Terapi Nutrisi Parenteral (TNPE) 

  • Kapan diberikan? 

1. Jika pasien belum stabil,  syok,  dan dehidrasi: tidak boleh TNPE total
2. Asam amino diberikan setelah kebutuhan kalori dicukupi dengan karbohidrat

  • Rute pemberian: akses vena perifer atau vena sentral

1. Vena Perifer
Keuntungan: Pemasangan lebih mudah,  komplikasi mekanis rendah,  mudah terindentifikasi bila flebitis
Kekurangan: Pembuluh darah perifer harus baik

2. Vena Sentral
Keuntungan: Bisa untuk kemasam dengam osmolaritas > 900
Kekurangan: Emboli udara,  pneumotoraks,  trombosis vena sentralis,  dan sepsis


  • Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian TNPE:

1. Jika vena perifer perhatikan osmolaritas kemasan, osmolaritas  lebih dari 900 menyebabkan phebitis
2. Gagal jantung / gagal ginjal: hati - hati 'overload'
3. Pada kasus ensefalohepatik,  pilih AARC
4. Hindari energi dari lemak pada kasus hiperlipidemia
5. Kenali karakteristik berbagai kemasan

Monday, May 8, 2017



BIMBINGAN IPD-17 : HIPERTENSI

Image result for suzanna ndraha
 Disampaikan oleh :
dr. Suzanna Ndraha Sp.PD, KGEH, FINASIM


Diringkas oleh :
Letidebora Enjuvina


Definisi dan Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi adalah suatu abnormalitas yang terjadi pada tekanan darah seseorang. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Karena hipertensi dapat menyerang beberapa target organ didalam tubuh, dan banyak organ-organ vital yang menjadi sasarannya, antara lain jantung yang dapat mengakibatkan Hypertensive Heart Disease, dan berakhir pada gagal jantung, kedua adalah otak yang dapat mengakibatkan stroke iskemik ataupun perdarahan, ketiga adalah ginjal yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronik, selanjutnya pada pembuluh darahnya sendiri akan terjadi peripheral artery disease, dan terakhir ke pembuluh darah retina yang akan mengakibatkan hypertensive retinopathy.
Dikatakan hipertensi apabila terjadi peningkatan tekanan sistolik (≥140 mmHg) atau tekanan diastolik (≥90 mmHg). Akan tetapi apabila ada pasien yang datang kepada anda, dan pertama kali diukur tekanan darahnya ≥140/90 mmHg, kita tidak dapat langsung mendiagnosis sebagai hipertensi, perlu pengecekan ulang sebanyak 3 kali. Apabila memang dalam 3 kali pengukuran tetap ≥140/90 mmHg, kita dapat katakan itu sebagai hipertensi.
Adapun pembagian derajat keparahan hipertensi pada seseorang merupakan salah satu dasar penentuan tatalaksana hipertensi (disadur dari A Statement by the American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension2013).


Klasifikasi
Sistolik
Diastolik
Optimal
< 120
Dan
< 80
Normal
120-129
Dan/atau
80-84
Normal tinggi
130-139
Dan/atau
84-89
Hipertensi derajat 1
140-159
Dan/atau
90-99
Hipertensi derajat 2
160-179
Dan/atau
100-109
Hipertensi derajat 3
³180
Dan/atau
³110
Hipertensi sistolik terisolasi
³140
Dan
<90

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. 
Hipertensi primer adalalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Pada hipertensi primer, peningkatan tekanan darah terjadi karena efek penuaan akibat hilangnya elastisitas pada pembuluh darah sendiri, dan ini terjadi 90% pada semua penderita hipertensi. Faktor-faktor seperti usia, genetik, ras, jenis kelamin, penyakit dislipidemia, asam urat, gaya hidup inilah yang menjadi penyebab terjadinya hipertensi primer.
Hipertensi Sekunder  adalalah hipertensi yang terjadi akibat penyakit tertentu. Umumnya hipertensi sekunder mengenai usia muda. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder antara lain gagal ginjal kronik, hipertiroid, sindroma cushing, glomerulonefritis (sindrom nefritis), tumor otak, penyakit conn, dan stenosis arteri renalis. Keadaan-keadaan seperti ini memberikan 10% kasus pada semua penderita hipertensi. Kemudian ada jenis lain yang dikenal sebagai Isolated Systolic Hypertension, ini adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg, tetapi diastolik <90 mmHg.

TATALAKSANA HIPERTENSI
Non farmakologis
Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko permasalahan kardiovaskular. Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi.

Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah :
· Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes dan dislipidemia.
· Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan tradisional pada kebanyakan daerah. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini juga bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2 gr/ hari
· Olah raga. Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 – 60 menit/ hari, minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. Terhadap pasien yang tidak memiliki waktu untuk berolahraga secara khusus, sebaiknya harus tetap dianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktifitas rutin mereka di tempat kerjanya.
· Mengurangi konsumsi alcohol. Walaupun konsumsi alcohol belum menjadi pola hidup yang umum di negara kita, namun konsumsi alcohol semakin hari semakin meningkat seiring dengan perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama di kota besar. Konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian membatasi atau menghentikan konsumsi alcohol sangat membantu dalam penurunan tekanan darah.
· Berhenti merokok. Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek langsung dapat menurunkan tekanan darah, tetapi merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.

Tatalaksana Farmakologis
Untuk JNC 8, terdapat perbedaan dari JNC sebelumnya yang dilihat adalah usia, apabila usia ≥60th memiliki target tekanan darah <150/90 mmHg. Untuk usia <60 tahun target tekanan darahnya <140/90 mmHg. Kemudian dilihat lagi berdasarkan ras, untuk ras hitam diberikan thiazide atau CCB saja, bisa tunggal atau kombinasi, sedangkan ras non-hitam diberikan thiazide atau ACE-Inhibitor atau ARB, atau CCB, diberikan tunggal atau kombinasi. Kemudian ACE-Inhibitor dan ARB pada JNC 8 tidak dianjurkan untuk dikombinasi, karena mereka adalah jenis obat yang cara kerjanya sama.

Golongan-golongan obat antihipertensi yang sering dipakai pada sehari-hari antara lain:
1.     Calcium Channel Blocker
Golongan yang lama pada obat ini yang terkenal adalah nifedipin dengan dosis 10mg, dan rata-rata pada obat antihipertensi golongan lama diberikan sebanyak 3 kali sehari. Obat ini adalah obat yang satu-satunya aman pada CCB untuk ibu hamil, dan biasanya dipakai untuk menurunkan tekanan darah pada hipertensi emergency, diberikan secara sublingual. Efek samping dari obat ini sering menyebabkan takikardi. Untuk golongan baru kita kenal banyak dijual dipasaran yaitu amlodipin dengan dosis 5 mg dan 10 mg, pemberian hanya 1 kali sehari. Akan tetapi obat ini sering menyebabkan oedem tungkai.
2.      Ace Inhibitor
Yang terkenal dari golongan lama obat ini adalah captopril sediaan 12,5 mg dan 25 mg. Obat golongan ini dapat menghambat progresifitas nefropati pada Diabetes Melitus, dan dapat menjadi remodelling di ventrikel kiri jantung. Obat ini di kontra indikasikan untuk penderita yang memiliki kreatinin >3 mg/dL. Efek samping yang terkenal pada obat ini sering menyebabkan batuk yang berlebihan. Kemudian golongan baru dari ACE Inhibitor adalah antara lain lisinopril dengan sediaan 10mg, pemberian 1 kali sehari.
3.     ARB (Angiotensin Reseptor Blocker)
Golongan lama yang sering dipakai adalah losartan dengan sediaan 25mg, 50 mg, dan 100mg. Keuntungan dari semua gologan obat ini hanya diberikan 1 kali sehari baik golongan lama ataupun golongan baru. Untuk golongan obat ini sangat dikontraindikasikan pada ibu hamil, ini berlaku juga untuk golongan ACE-Inhibitor. Golongan baru dari obat ini yang terkenal adalah candesartan sediaannya 8mg dan 16mg. Golongan ini juga dapat mengurangi progresifitas dari nefropati DM.
4.     Beta Blocker
Golongan lama yang paling terkenal adalah propranolol, dan ini sangat baik digunakan pada hipertiroid dan sirosis hati pada keadaan hipertensi porta. Sediaannya 10mg, 20mg, 40mg, 60mg dan 80mg. Golongan yang baru antara lain bisoprolol dan ini sangat bagus diberikan pada hipertensi dengan takikardi. Sediaannya 5mg dan 10mg. Golongan ini sangat dikontra indikasikan pada pasien yang punya gangguan pada saluran napas seperti asma, karena menyebabkan bronkospasme.
5.     Diuretic
     Yang paling sering digunakan adalah Hidroclorothiazide, dengan sediaan 12,5mg, 25mg, dan 50mg, kontraindikasi pada pasien ACKD (Acute Chronic Kidney Injury). HCT ini biasanya dikombinasikan juga dengan sipronolakton, diuretic hemat kalium untuk mencegah terjadinya hipokalemia, sediaannya 25mg, 50mg, dan 100mg.
Masih ada beberapa golongan lainnya seperti beta blocker sentral yaitu klonidin dengan sediaan 15 microgram dan 75 microgram, akan tetapi ini adalah lini terakhir dan biasanya juga digunakan untuk hipertensi emergency bersama nifedipin. Selain itu metildopa dengan dosis 250 mg, diberikan 3 kali sehari, yang biasanya diberikan pada ibu hamil, efek samping obat ini sering membuat mengantuk karena efek kerja sentralnya