Monday, July 13, 2020

SOP Kegawatdaruratan IPD part 3



SOP TATALAKSANA ANEMIA DI IGD 


Disampaikan oleh :


dr. Suzanna Ndraha, SpPD, KGEH, FINASIM

Diringkas oleh :


 - Mutiara Nur Adinda S.Ked -

Anemia
            Anemia merupakan masalah medis yang sering dijumpai di seluruh dunia, di samping sebagai masalah kesehatan utama di masyarakat, terutama di negara berkembang. Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity).

Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri (disease entity), tetapi merupakan gejala berbagai macam penyakit dasar (underlying disease). Oleh karena itu dalam diagnosis anemia saja tidaklah cukup. Hal ini penting sebab seringkali penyakit dasar tersebut tersembunyi, sehingga apabila hal ini dapat diungkap akan menuntun para klinisi ke penegakan diagnosa yang utama. Pendekatan terhadap pasien anemia memerlukan pemahaman mengenai patogenesis dan patofisiologi anemia serta ketepatan dalam memilih tindakan. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai tatalaksana terhadap pasien anemia di IGD (Instalasi Gawat Darurat). Pedoman dalam tulisan ini berdasarkan PPK atau Pedoman Praktik Klinis mengenai SOP Tatalaksana Anemia yang sudah disetujui dalam Rapat Subkomite Mutu RSUD Koja pada 26 April 2012.

Parameter yang paling umum dipakai untuk menunjukkan penurunan massa eritrosit adalah kadar hemoglobin, disusul oleh hematokrit dan hitung eritrosit. Harga normal hemoglobin sangat bervariasi secara fisiologik tergantung pada umur, jenis kelamin, adanya kehamilan, dan ketinggian tempat tinggal. Oleh karena itu ditentukan titik pemilah (cut off point) di bawah kadar dimana kita anggap terdapat anemia.
                                    Tabel 1. Kriteria Anemia Menurut WHO
Kelompok
Kriteria Anemia (Hb)
Laki-laki dewasa
<13 g/dl
Wanita dewasa tidak hamil
<12 g/dl
Wanita hamil
<11 g/dl


Bagaimana penerapan klinisnya jika kita sebagai tenaga medis menemui kasus anemia di IGD?Tatalaksana anemia di IGD membutuhkan keputusan yang cepat. Sebab sudah dipahami anemia bukanlah suatu diagnosis utama, namun merupakan suatu sindrom yang disebabkan oleh suatu penyakit utama. Maka yang tahap-tahap yang harus kita lakukan dalam mendiagnosis anemia adalah :
  • Menentukan adanya anemia
  • Menentukan jenis anemia
  • Menentukan etiologi atau penyakit dasar anemia
  • Menentukan ada atau tidaknya penyakit penyerta yang akan mempengaruhi hasil pengobatan.




Gambar no.1 SOP Tatalaksana Anemia

Anemia dengan Ancaman Gagal Jantung

          Pendekatan diagnostik dalam tatalaksana anemia ini adalah berdasarkan sifat gejala anemia. Apakah pasien datang dengan onset akut atau kronik? Sebab anemia kronik tanpa ada perdarahan maka risikonya adalah gagal jantung. Apa saja tanda-tanda ancaman gagal jantung tersebut? 
Berikut tanda-tandanya :
  •       Takikardi
  •       Takipneu
  •       Ejection sistolic murmur pada auskultasi
  •       JVP meningkat
  •       Pada thorax foto terdapat gambaran : kardiomegali dan edema paru

Pada keadaan ini dikenal sebagai AHD (Anemia Heart Disease) yaitu suatu kegagalan jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh akibat anemia kronik. Penyakit penyebab anemia kronik ini bermacam-macam seperti anemia defisiensi besi, anemia perdarahan kronik, penyakit ginjal kronik (karena defisiensi eritropoietin),  thalassemia, dan masih banyak lagi. Sedangkan pada anemia akut penyebabnya adalah perdarahan akut seperti hematemesis, melena, hemoptoe, dan perdarahan akut lainnya.
        Tatalaksana untuk anemia  akut adalah langsung transfusi sesuai dengan kebutuhan. Bila ada syok hipovolemik, terlebih dahulu ditatalaksana gangguan hemodinamiknya dengan memberi cairak kristaloid ataupun koloid sesuai kebutuhan.
        Anemia  kronik dimana tidak ada perdarahan ditatalaksana sesuai penyebabnya. Bila anemia berat, maka akan ada dengan ancaman gagal jantung. Bagaimana menatalaksana Anemia Heart Disease? Apabila pasien memiliki  fungsi ginjal yang baik maka lakukan pemberian furosemid 1-2 amp  untuk mengeluarkan volume melalui urine sebelum transfusi agar tidak terjadi fluid overload. Namun apabila pasien memiliki fungsi ginjal yang buruk, maka biasanya respons terhadap furosemid tidak adekuat sehingga diperlukan dosis furosemid yang lebih tinggi. Untuk menstabilkan keadaan hemodinamik, lakukan prinsip balans negatif yaitu evaluasi diuresis pasien dengan target minimal 500 cc per 6 jam dengan perbandingan jumlah cairan yang keluar harus lebih banyak dari cairan yang masuk. 
    Untuk anemia kronik yang penyebabnya tidak diketahui, maka usahakan menunda transfusi sebelum langkah diagnostik mencari penyebab anemia. Bila ada ancaman gagal jantung dan transfusi tidak bisa ditunda,  perlu dipikirkan melakukan pemeriksaan gambaran darah tepi sebelum melakukan transfusi darah.





🙏semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi rekan sejawat 🙏





1 comment:

  1. Izin promo ya Admin^^

    Bosan gak tau mau ngapain, ayo buruan gabung dengan kami
    minimal deposit dan withdraw nya hanya 15 ribu rupiah ya :D
    Kami Juga Menerima Deposit Via Pulsa
    - Telkomsel
    - XL axiata
    - OVO
    - DANA
    segera DAFTAR di WWW.AJOKARTU.COMPANY ....:)

    ReplyDelete